Restoran-Domano – Papua bukan hanya tentang keindahan Raja Ampat atau kemegahan Puncak Jaya. Di balik bentang alamnya yang liar dan eksotis, bumi Cendrawasih menyimpan kekayaan gastronomi yang tiada duanya. Salah satu yang paling menarik perhatian dunia kuliner internasional saat ini adalah Udang Selingkuh.
Namanya yang unik sering kali mengundang tawa dan rasa penasaran bagi siapa pun yang baru pertama kali mendengarnya. Namun, di balik nama yang “provokatif” tersebut, tersimpan cita rasa mewah yang setara dengan lobster kelas atas. Populer di wilayah dataran tinggi Papua Selatan dan pegunungan tengah, udang ini telah menjadi primadona yang wajib dicicipi oleh setiap pelancong.
Artikel ini akan membawa Anda mengenal lebih dalam tentang asal-usul, keunikan biologis, hingga rahasia pengolahan Udang Selingkuh yang menjadikannya sebagai warisan kuliner kebanggaan Papua.
Mengapa Dinamakan Udang Selingkuh?

Pertanyaan yang paling sering muncul adalah: mengapa udang ini disebut selingkuh? Jawabannya terletak pada morfologi atau bentuk fisiknya yang tidak lazim. Udang ini memiliki tubuh layaknya udang pada umumnya, namun ia dibekali dengan sepasang capit yang besar, kuat, dan kokoh seperti capit kepiting.
Masyarakat lokal secara turun-temurun berseloroh bahwa udang ini merupakan hasil “perselingkuhan” antara udang dan kepiting. Secara ilmiah, udang ini merupakan jenis udang air tawar dari genus Cherax. Di dunia internasional, ia lebih dikenal dengan nama Crayfish atau Freshwater Lobster. Namun, sebutan “Udang Selingkuh” sudah terlanjur melekat dan menjadi merek dagang tak resmi yang sangat kuat untuk pariwisata kuliner di wilayah seperti Wamena dan Papua Selatan.
Habitat Asli: Kehidupan di Perairan Jernih Papua Selatan
Udang Selingkuh bukan berasal dari laut, melainkan dari perairan air tawar. Habitat aslinya tersebar di sungai-sungai berarus tenang, danau, dan rawa-rawa di wilayah pegunungan serta dataran tinggi Papua Selatan. Salah satu tempat terbaik untuk menemukan udang berkualitas tinggi adalah di Danau Paniai dan perairan di sekitar Lembah Baliem.
Kondisi air di wilayah ini sangat jernih dan kaya akan mineral, yang sangat memengaruhi kualitas daging udang tersebut. Berbeda dengan udang tambak, Udang Selingkuh tumbuh secara alami di alam liar. Mereka memakan plankton dan detritus di dasar sungai, yang membuat dagingnya memiliki rasa manis alami dan aroma yang sangat segar tanpa bau lumpur. Karena proses pertumbuhannya yang bergantung sepenuhnya pada alam, pasokan udang ini pun sangat eksklusif dan musiman.
Tekstur dan Cita Rasa: Perpaduan Udang, Kepiting, dan Lobster
Jika Anda adalah pecinta makanan laut (seafood), maka Udang Selingkuh akan memberikan pengalaman sensorik yang luar biasa. Banyak penikmat kuliner menyebut udang ini sebagai “paket lengkap” karena menyatukan tiga karakteristik rasa sekaligus:
-
Daging Tubuh: Memiliki tekstur padat, kenyal, dan berserat halus mirip dengan lobster. Rasanya cenderung manis alami (gurih tanpa banyak bumbu).
-
Daging Capit: Bagian capitnya yang besar memiliki tekstur yang lebih lembut dan juicy, sangat mirip dengan daging kepiting soka atau kepiting bakau.
-
Aroma: Karena hidup di air tawar pegunungan yang dingin, udang ini tidak memiliki aroma amis laut yang kuat, melainkan aroma yang bersih dan segar.
Kemewahan rasanya inilah yang membuat Udang Selingkuh sering kali disajikan di restoran-restoran eksklusif dengan harga yang cukup tinggi, mencerminkan sulitnya proses penangkapan dan pengirimannya dari pedalaman Papua.
Rahasia Pengolahan Tradisional dan Modern

Di Papua Selatan, Udang Selingkuh biasanya diolah dengan bumbu yang sederhana agar rasa asli dagingnya tidak tertutup oleh rempah yang terlalu tajam. Namun, seiring berkembangnya pariwisata, banyak variasi resep yang muncul.
Udang Selingkuh Rebus/Bakar Polos
Ini adalah cara terbaik untuk menikmati keaslian rasanya. Udang hanya direbus dengan sedikit garam atau dibakar di atas bara api. Dagingnya yang putih bersih akan terasa sangat manis dan gurih, biasanya disantap dengan sambal colo-colo khas Papua yang segar.
Saus Asam Manis dan Saus Padang
Bagi wisatawan yang terbiasa dengan lidah nusantara, pengolahan dengan saus asam manis atau saus padang menjadi pilihan terpopuler. Tekstur daging udang yang padat sangat cocok dipadukan dengan saus yang kental dan pedas.
Olahan Mentega dan Lada Hitam
Di beberapa hotel berbintang di Merauke atau Jayapura, Udang Selingkuh Papua Selatan sering disajikan dengan gaya Barat, seperti Garlic Butter atau saus lada hitam. Lemak dari mentega meresap ke dalam serat daging udang yang padat, menciptakan perpaduan rasa yang sangat creamy dan mewah.
Udang Selingkuh sebagai Ikon Budaya dan Ekonomi Lokal
Keberadaan Udang Selingkuh bukan hanya tentang urusan perut, tetapi juga menyangkut denyut ekonomi masyarakat asli Papua Selatan. Penangkapan udang ini umumnya dilakukan oleh nelayan lokal secara manual menggunakan alat tradisional yang ramah lingkungan seperti “bubu” (perangkap dari bambu).
Hal ini menjaga populasi udang agar tidak punah akibat eksploitasi berlebihan. Bagi masyarakat lokal, Udang Selingkuh adalah komoditas berharga yang membantu meningkatkan taraf hidup mereka. Di pasar-pasar tradisional Merauke atau Wamena, udang ini dijual per tumpukan atau per kilogram, dan menjadi kebanggaan tersendiri saat disajikan untuk tamu-tamu penting sebagai simbol penghormatan.
Tantangan Pelestarian di Tengah Modernisasi

Meskipun saat ini Udang Selingkuh masih bisa ditemukan, tantangan pelestarian mulai muncul. Perubahan iklim, pencemaran air sungai akibat aktivitas tambang ilegal, hingga masuknya spesies invasif dari luar Papua menjadi ancaman nyata bagi habitat asli Cherax.
Pemerintah daerah di Papua Selatan kini mulai menggalakkan program budidaya berkelanjutan dan pengetatan aturan penangkapan (seperti larangan menangkap udang yang sedang bertelur). Upaya ini krusial agar generasi mendatang tetap bisa mencicipi kelezatan “perselingkuhan” alam yang unik ini. Sebagai wisatawan, kita juga bertanggung jawab untuk hanya mengonsumsi udang dari penyedia yang mempraktikkan perdagangan adil dan berkelanjutan.
Tips Menikmati Udang Selingkuh bagi Wisatawan
Jika Anda berencana berkunjung ke Papua Selatan atau wilayah pegunungan tengah untuk mencoba kuliner ini, berikut adalah beberapa tips agar pengalaman Anda maksimal:
-
Pilih Ukuran Sedang: Udang yang terlalu besar terkadang memiliki kulit yang sangat keras sehingga sulit dikupas, sementara ukuran sedang biasanya memiliki daging yang paling manis dan empuk.
-
Nikmati dengan Papeda: Untuk pengalaman otentik Papua, santaplah Udang Selingkuh dengan papeda (bubur sagu) dan kuah kuning. Tekstur papeda yang licin berpadu sempurna dengan daging udang yang kenyal.
-
Perhatikan Musim: Meskipun tersedia hampir sepanjang tahun, hasil tangkapan terbaik biasanya ada pada musim kemarau saat debit air sungai menurun, sehingga memudahkan nelayan menangkap udang yang bersembunyi di sela-sela batu.
Warisan Rasa dari Pedalaman Papua
Udang Selingkuh adalah bukti betapa kayanya alam Indonesia. Nama yang unik mungkin menjadi penarik perhatian awal, namun kualitas rasa dan tekstur dagingnya lah yang membuat orang jatuh cinta dan ingin kembali lagi ke Papua. Ia bukan sekadar makanan, melainkan identitas budaya dan simbol kemewahan dari alam yang masih murni.
Menikmati sepiring Udang Selingkuh di tepi sungai atau danau di Papua, ditemani udara pegunungan yang sejuk, adalah sebuah kemewahan yang tidak bisa dibeli di kota-kota besar. Ini adalah kuliner yang bercerita tentang kearifan lokal, keindahan alam, dan tentu saja, sebuah “perselingkuhan” rasa yang paling nikmat di dunia.
