Restoran-Domano – Indonesia adalah negeri dengan ribuan cita rasa, di mana setiap jengkal tanahnya menawarkan identitas kuliner yang unik. Jika kita melintasi gerbang selatan Pulau Sumatera, kita akan disambut oleh Provinsi Lampung, sebuah wilayah yang dijuluki sebagai Bumi Ruwa Jurai. Di balik kekayaan alamnya yang mempesona, Lampung menyimpan sebuah warisan kuliner yang menjadi primadona di meja makan masyarakatnya: Gulai Taboh.
Gulai Taboh bukan sekadar masakan bersantan biasa. Ia adalah representasi dari kearifan lokal, sebuah simfoni gurih yang memadukan hasil kekayaan laut dan sungai dengan rempah-rempah pilihan. Nama “Taboh” dalam bahasa Lampung sendiri berarti “gurih” atau “lezat”, sebuah janji yang langsung ditepati begitu sesendok kuah kuningnya menyentuh lidah Anda. Artikel ini akan membawa Anda menyelami filosofi, variasi, hingga rahasia kelezatan di balik sajian ikonik khas Lampung ini.
Filosofi dan Sejarah Gulai Taboh dalam Budaya Lampung

Bagi masyarakat Lampung, makanan adalah bagian integral dari adat istiadat. Gulai Taboh seringkali muncul dalam berbagai upacara adat, mulai dari pernikahan hingga acara penyambutan tamu kehormatan. Hidangan ini melambangkan keramah-tamahan dan kemakmuran masyarakat lokal yang hidup berdampingan dengan alam.
Secara historis, Lampung terbagi menjadi dua kelompok masyarakat besar, yaitu Lampung Saibatin (masyarakat pesisir) dan Lampung Pepadun (masyarakat pedalaman). Letak geografis ini mempengaruhi bahan utama dalam Gulai Taboh. Masyarakat pesisir cenderung menggunakan ikan laut segar, sementara masyarakat pedalaman lebih sering menggunakan ikan sungai atau ikan yang dikeringkan. Perbedaan ini justru memperkaya khazanah Gulai Taboh, menjadikannya masakan yang inklusif bagi seluruh lapisan masyarakat Lampung.
Mengenal Dua Varian Utama Gulai Taboh
Daya tarik utama Gulai Taboh terletak pada fleksibilitas bahannya. Meski secara umum dikenal sebagai gulai ikan, terdapat dua kategori besar yang membedakan cara penyajian dan bahan pendukungnya:
Gulai Taboh Ikan Laut dengan Sayuran
Varian ini sangat populer di daerah pesisir seperti Lampung Selatan, Pesisir Barat, dan Tanggamus. Ikan yang digunakan biasanya adalah ikan tuna, tongkol, atau simba yang dagingnya tebal. Keunikan dari varian ini adalah penambahan berbagai jenis sayuran ke dalam kuah santannya, seperti kacang panjang, rebung, kacang merah, hingga buah melinjo. Perpaduan ikan laut yang segar dengan sayuran menciptakan tekstur yang kaya dalam satu mangkuk.
Gulai Taboh Ikan Sungai (Ikan Tapah atau Baung)
Di daerah pedalaman, Gulai Taboh sering menggunakan ikan sungai. Terkadang, ikan ini diolah dengan cara diasap terlebih dahulu (dikenal dengan istilah Iwak Asap) sebelum dimasak ke dalam gulai. Proses pengasapan ini memberikan aroma smoky yang khas dan rasa gurih yang lebih pekat. Berbeda dengan varian pesisir, varian pedalaman terkadang menambahkan “Tiwais” atau serai hutan untuk menambah aroma segar.
Komposisi Rempah: Rahasia di Balik Rasa “Taboh”
Apa yang membuat Gulai Taboh berbeda dengan gulai dari daerah lain seperti Padang atau Medan? Rahasianya terletak pada penggunaan bumbu yang cenderung lebih sederhana namun sangat menonjolkan rasa asli dari bahan utamanya.
Bumbu dasar Gulai Taboh terdiri dari kunyit, jahe, lengkuas, dan kemiri. Penggunaan kunyit yang dominan memberikan warna kuning cerah yang menggugah selera. Namun, kunci utamanya adalah santan. Santan yang digunakan haruslah berasal dari kelapa tua yang diperas segar, memberikan konsistensi kuah yang kental dan rasa gurih alami. Tidak seperti gulai Sumatera Barat yang banyak menggunakan cabai merah, Gulai Taboh asli cenderung menggunakan cabai rawit utuh atau sedikit cabai merah sehingga rasa gurih santannya tidak tertutup oleh rasa pedas yang menyengat.
Proses Memasak, Seni Menjaga Keseimbangan Rasa

Memasak Gulai Taboh Khas Lampung adalah sebuah bentuk kesabaran. Proses dimulai dengan menumis bumbu halus hingga harum, kemudian memasukkan santan encer. Salah satu teknik penting dalam memasak gulai adalah menjaga agar santan tidak pecah. Masyarakat Lampung biasanya mengaduk kuah secara perlahan dengan gerakan konsisten hingga santan mendidih.
Setelah santan stabil, ikan dimasukkan ke dalam kuali. Ikan tidak boleh diaduk terlalu sering agar dagingnya tidak hancur. Terakhir, santan kental ditambahkan untuk memberikan sentuhan akhir yang creamy. Penambahan bahan asam seperti asam kandis atau belimbing wuluh sering dilakukan untuk menyeimbangkan rasa gurih santan agar tidak terasa enek di tenggorokan.
Bahan Unik Pendamping: Kehadiran Rebung dan Kelapa Sangrai
Dalam beberapa variasi yang lebih otentik, Gulai Taboh sering ditambahkan bahan-bahan unik yang jarang ditemui di masakan lain. Rebung (bambu muda) adalah pendamping favorit karena kemampuannya menyerap kuah santan dengan sempurna, memberikan tekstur renyah saat dikunyah.
Di beberapa daerah di Lampung, ada pula yang menambahkan kelapa parut yang telah disangrai dan ditumbuk halus ke dalam kuah gulai. Hal ini memberikan aroma yang lebih harum dan tekstur kuah yang sedikit berpasir namun sangat gurih. Penambahan sayur-sayuran ini menjadikan Gulai Taboh sebagai hidangan “One Dish Meal” yang lengkap secara nutrisi, mengandung protein dari ikan, lemak dari santan, dan serat dari sayuran.
Cara Menikmati Gulai Taboh: Pendamping Nasi Hangat dan Seruit
Gulai Taboh hampir tidak pernah dinikmati sendirian. Ia adalah bagian dari paket lengkap makan besar khas Lampung. Cara terbaik menikmatinya adalah dengan nasi putih yang masih mengepul hangat. Namun, pengalaman kuliner Anda tidak akan lengkap tanpa kehadiran Seruit.
Seruit adalah sambal khas Lampung yang terbuat dari terasi, cabai, dan campuran buah seperti mangga muda atau tempoyak (durian fermentasi). Biasanya, ikan dari makanan ini diambil sedikit, lalu dicocolkan ke sambal seruit, kemudian disantap bersama nasi dan kuah gulai yang gurih. Perpaduan antara gurihnya gulai, pedasnya sambal, dan asam segar dari tempoyak menciptakan ledakan rasa yang luar biasa di dalam mulut.
Gulai Taboh dalam Perspektif Pariwisata Kuliner

Seiring dengan meningkatnya tren pariwisata di Lampung, terutama dengan populernya destinasi seperti Krui dan Teluk Kiluan, Gulai Taboh mulai dikenal luas oleh wisatawan luar daerah. Banyak rumah makan di sepanjang jalan lintas Sumatera kini menyajikan makanan ini sebagai menu andalan.
Bagi wisatawan, mencicipi Gulai Taboh adalah cara tercepat untuk mengenal karakter masyarakat Lampung: kuat, hangat, dan kaya akan tradisi. Kuliner ini telah menjadi jembatan budaya yang memperkenalkan keindahan Bumi Ruwa Jurai lewat lidah. Pemerintah daerah pun terus mendorong promosi Gulai Taboh melalui berbagai festival kuliner agar hidangan ini tidak hanya lestari di dapur rumah tangga, tetapi juga bersaing di kancah nasional.
Tips Membuat Gulai Taboh yang Otentik di Rumah
Jika Anda rindu akan rasa Lampung namun berada jauh dari sana, Anda bisa mencoba membuatnya sendiri. Berikut adalah beberapa tips agar makanan ini buatan Anda terasa otentik:
-
Gunakan Ikan Segar: Kesegaran ikan adalah kunci. Jangan gunakan ikan beku karena rasa manis alami ikan akan hilang.
-
Santan Segar: Hindari penggunaan santan instan. Santan dari perasan kelapa asli memberikan aroma dan tekstur yang tidak bisa digantikan.
-
Jangan Pelit Bumbu: Pastikan kunyit dan kemiri dihaluskan dengan sempurna agar kuah tidak terasa langu.
-
Tambahkan Belimbing Wuluh: Untuk rasa segar yang pas, belimbing wuluh lebih disarankan daripada asam jawa atau cuka.
Kesimpulan
Gulai Taboh adalah bukti nyata betapa kayanya citra rasa nusantara. Ia bukan hanya sekadar masakan, melainkan identitas yang diwariskan turun-temurun di Bumi Ruwa Jurai. Dari perpaduan santan yang kental, ikan yang segar, hingga rempah yang harum, makanan ini menawarkan pengalaman kuliner yang jujur dan memuaskan.
Menikmati semangkuk Gulai Taboh berarti merayakan kekayaan alam Lampung. Jadi, jika suatu saat Anda menginjakkan kaki di tanah Lampung, pastikan untuk tidak melewatkan kesempatan mencicipi simfoni gurih ini. Sebab, belum lengkap rasanya ke Lampung jika belum merasakan kelezatan makanan ini yang melegenda.
