Restoran-Domano – Palembang tidak hanya soal Pempek. Jika Anda berkunjung ke kota yang dibelah oleh Sungai Musi ini, aroma harum kaldu udang yang menyeruak dari kedai-kedai sarapan akan menuntun Anda pada sebuah hidangan legendaris: Mie Celor.
Mie Celor bukan sekadar mie kuah biasa. Ia adalah representasi kekayaan maritim dan akulturasi budaya di Sumatera Selatan. Perpaduan antara mie telur yang kenyal dengan siraman kuah santan kental yang kaya akan sari pati udang galah menciptakan simfoni rasa yang sulit dilupakan. Artikel ini akan mengajak Anda menyelami sejarah, keunikan bahan, hingga rahasia di balik kelezatan semangkuk Mie Celor yang autentik.
Sejarah dan Filosofi di Balik Nama Mie Celor

Secara etimologi, nama “Celor” dalam bahasa Melayu Palembang berarti “dicelup-celupkan”. Nama ini merujuk pada proses pembuatan hidangan tersebut. Mie telur dan tauge tidak dimasak dengan cara direbus dalam waktu lama, melainkan hanya dicelupkan ke dalam air mendidih menggunakan wadah saringan bambu atau logam sebelum disajikan.
Teknik “celor” ini bertujuan agar tekstur mie tetap terjaga kekenyalannya dan tauge tetap memiliki sensasi crunchy atau renyah saat digigit. Tradisi kuliner ini diyakini merupakan hasil akulturasi antara budaya Tionghoa (yang membawa tradisi makan mie) dengan kearifan lokal masyarakat Palembang yang memanfaatkan kekayaan udang dari sungai-sungai besar di Sumatera Selatan.
Keajaiban Kuah Udang Kental: Jantung dari Mie Celor
Jika mie adalah tubuhnya, maka kuah adalah jiwanya. Perbedaan mendasar antara Mie Celor dengan mie kuah dari daerah lain terletak pada tekstur dan bahan dasar kuahnya.
Kuah Mie Celor dibuat dari kaldu udang galah yang sangat pekat. Kepala dan kulit udang disangrai hingga harum, lalu direbus bersama bumbu halus yang terdiri dari bawang putih, bawang merah, dan kemiri. Rahasia kekentalannya berasal dari campuran santan kelapa dan tepung terigu atau maizena, yang dimasak perlahan hingga mencapai konsistensi mirip pasta atau saus kental.
Warna kuahnya yang jingga pucat mencerminkan kandungan lemak udang yang gurih. Saat sendok pertama masuk ke mulut, Anda akan merasakan ledakan rasa umami dari udang yang diseimbangkan oleh gurihnya santan. Tidak ada rasa dominan manis di sini; Mie Celor murni merayakan rasa gurih laut dan sungai.
Anatomi Semangkuk Mie Celor yang Autentik

Menikmati Mie Celor Khas Sumatera Selatan adalah tentang tekstur yang berlapis-lapis. Berikut adalah komponen utama yang harus ada dalam penyajian standar di Palembang:
-
Mie Telur Kuning: Mie yang digunakan biasanya berukuran lebih besar dan tebal dibandingkan mie ayam pada umumnya, mirip dengan mie Aceh namun dengan tekstur yang lebih lembut.
-
Tauge Segar: Memberikan tekstur renyah sebagai penyeimbang kuah yang kental dan berat.
-
Udang Galah: Potongan udang rebus yang manis dan segar biasanya diletakkan di atas mie.
-
Telur Rebus: Disajikan dalam bentuk irisan atau dibelah dua. Uniknya, beberapa kedai legendaris di Palembang menyajikan telur dengan bagian kuning yang masih sedikit masir.
-
Kucai dan Bawang Goreng: Irisan daun kucai memberikan aroma segar yang khas, sementara bawang goreng menambah dimensi rasa gurih.
-
Jeruk Kunci: Perasan jeruk kunci (jeruk nipis kecil) sangat krusial untuk memberikan sedikit rasa asam agar kuah santan tidak terasa terlalu “enek”.
Tempat Menikmati Mie Celor Legendaris di Palembang
Bagi Anda yang sedang berada di Palembang pada tahun 2026 ini, beberapa kedai tetap mempertahankan resep turun-temurun yang sudah bertahan puluhan tahun.
-
Mie Celor 26 Ilir H. Syafei: Ini adalah destinasi paling ikonik. Terletak di kawasan pasar tradisional, kedai ini hampir selalu penuh sejak pukul 6 pagi. Kuahnya yang sangat kental dan porsi udangnya yang royal menjadi alasan mengapa tempat ini tetap menjadi raja Mie Celor di Palembang.
-
Mie Celor HM. Syafei Z: Tersebar di beberapa titik di kota, tempat ini menawarkan suasana yang sedikit lebih modern namun tetap dengan cita rasa kaldu udang yang konsisten.
-
Kedai Kopi Lokal: Banyak warga lokal yang justru lebih suka menikmati makanan ini di kedai kopi (coffee shop) pinggir jalan sambil menyeruput kopi hitam, menciptakan suasana sarapan ala Palembang yang sangat kental.
Rahasia Memasak Mie Celor Sendiri di Rumah
Meski terlihat kompleks, Anda bisa mencoba membuat Mie Celor di rumah dengan mengikuti beberapa prinsip utama. Kunci utamanya adalah jangan pernah membuang kepala udang.
Tips membuat kaldu: Sangrai kepala udang hingga benar-benar kering dan berubah warna menjadi merah bata sebelum ditambah air. Ini akan menghilangkan aroma amis dan mengeluarkan sari pati udang secara maksimal. Setelah mendidih, saring kaldu agar kuah menjadi halus.
Untuk mendapatkan kekentalan yang pas, larutkan tepung terigu dengan sedikit air terlebih dahulu sebelum dimasukkan ke dalam santan yang sedang mendidih agar tidak menggumpal. Tambahkan sedikit bubuk merica putih untuk memberikan sensasi hangat yang tipis di tenggorokan.
Kandungan Gizi dan Nilai Budaya

Mie Celor adalah hidangan yang padat nutrisi. Udang memberikan asupan protein dan mineral yang tinggi, sementara santan dan mie menyediakan karbohidrat serta lemak untuk energi memulai hari. Bagi masyarakat Palembang Sumatera Selatan, Mie Celor adalah hidangan persatuan. Ia biasa dinikmati oleh semua kalangan, mulai dari pekerja di pelabuhan hingga pejabat negara.
Dalam setiap suapannya, terdapat cerita tentang kejayaan Kerajaan Sriwijaya yang menguasai jalur perdagangan laut, di mana rempah-rempah bertemu dengan hasil laut dan sungai, menciptakan identitas kuliner yang unik dan tak tergantikan.
Kesimpulan
Menikmati Mie Celor adalah sebuah pengalaman sensorik yang lengkap. Mulai dari visual kuahnya yang kental mengkilap, aroma udang yang tajam, hingga rasa gurih santan yang membelai lidah. Ia adalah antitesis dari mie instan; Makanan ini adalah hidangan yang membutuhkan kesabaran dalam mengolah kaldu dan ketepatan dalam penyajian.
Jika Anda mengaku pecinta kuliner nusantara, Mie Celor Palembang wajib masuk dalam daftar teratas Anda. Kelezatannya membuktikan bahwa Palembang adalah kota dengan selera rasa yang tinggi dan penghormatan yang besar terhadap bahan baku alam.
